Review Film Spider-Man: Far from Home (2019): Rasa Remaja Spider-Man

Ketika Friendly Neighborhood Spider-Man jadi remaja seutuhnya!

ulasan film Spider-Man: Far from Home

Tak lama setelah Avengers: Endgame mengembalikan setengah makhluk hidup yang menghilang karena Thanos, film Spider-Man: Far from Home melanjutkan cerita Marvel Cinematic Universe tepat beberapa bulan setelahnya. Dipenuhi dengan ekspektasi besar dan sebagai bagian penting dari rangkaian MCU, Far from Home terbilang mampu menjawab tekanan dari penggemar Marvel maupun Spider-Man lewat ekspektasi yang tinggi.

Langsung melanjutkan cerita Peter Parker paska Endgame, Peter yang bosan dan jenuh dengan aktivitas superhero-nya memilih untuk meninggalkan kostum Manusia Laba-Laba dan berlibur ke Eropa bersama teman-temannya di kelas Science. Sayang, kehadiran Elementals merusak segalanya. Ia pun harus bahu membahu bersama Mysterio yang datang dari semesta lain untuk mengalahkan monster penggangu tersebut.

review film Spider-Man Far from Home indonesia
via Sony Pictures

Film ini akan memberikan perkembangan karakter Peter, apalagi setelah kehilangan sosok mentor dari diri Tony Stark. Sama seperti edisi kedua Spider-Man karya Sam Raimi, film solo kedua Tom Holland menceritakan bagaimana Peter kesulitan membagi kehidupan personalnya sebagai remaja dengan tanggung jawab berat sebagai superhero.

Cerita remaja khas Spider-Man

Dengan skrip yang ditulis kembali oleh Chris McKenna dan Erik Soomers, sutradara Jon Watts mengeksplorasi apa yang terjadi lima tahun setelah The Snap The Blip Thanos. Film yang menjadi iterasi kedua Spider-Man di semesta sinematis Marvel menjelaskan beberapa pertanyaan yang masih menggantung setelah Endgame berakhir.

tom holland sebagai peter parker dan zendaya sebagai MJ dalam film Spider-Man Far from Home
via Sony Pictures

Tentu saja, film ini akan fokus pada perkembangan Peter Parker, sebagai Manusia Laba-Laba serta cerita cintanya. Sepanjang cerita, Far from Home menyatukan inkarnasi kisah remaja Peter dan MJ yang selalu menjadi romansa dalam narasi Spider-Man.

Tak hanya itu, hubungan ayah-anak pun juga berkembang dimana Peter mencari sosok yang bisa membantunya menjalani beratnya tugas superhero setelah kehilangan sang Iron Man.

Di film Spider-Man: Far from Home ini kita bisa melihat mengapa Spider-Man menjadi salah satu karakter yang paling digemari oleh penggemar Marvel, maupun penggemar superhero pada umumnya. Cerita Peter yang ‘membumi’ terkesan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dan salah satu premis yang paling melekat dari Spider-Man kembali hadir dalam film ini: pertentangan antara tugas kepahlawanan dan kehidupan personal.

Perkembangan narasi Peter Parker

Melalui film solo keduanya, kita bisa mengerti mengapa Tom Holland dipilih sebagai Peter Parker kesayangan mendiang Stan Lee. Umurnya yang masih muda memudahkan cerita perkembangan Peter Parker yang masih lugu, canggung, gugup, dan kebingungan mencari sosok ‘ayah’ yang mampu menggantikan Tony Stark paska Endgame.

hubungan Peter Parker dengan tony stark Iron-Man
Via Sony Pictures

Setengah dari bagian film terlihat seperti kisah komedi romantis bertemakan superhero. Perkembangan kisah Peter dan MJ berjalan lebih jauh. Ada adegan-adegan bernuansa teenage romantic vibe yang tidak akan bisa kita dapatkan dari Peter Parker versi Tobey Maquire maupun Andrew Garfield yang usia dan tampangnya jauh lebih tua dari Tom.

Dinamisnya perkembangan karakter Peter akhirnya mencapai puncaknya setelah ia menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita superhero-nya sendiri. Meskipun setiap pahlawan super menyelamatkan dunia, namun cara yang mereka tempuh berbeda-beda. Mungkin bagian inilah yang membuat cerita Far from Home semakin membekas sebagai bagian dari perjalanan Peter dan Spider-Man.

Lanjutan semesta superhero Marvel

Film ini hadir sebagai bagian penting dalam MCU: akhir Fase Ketiga dan membuka jalan untuk Fase Keempat MCU. Jon Watts kembali pada kursi sutradara, tetapi saat ini berada dalam posisi sulit dalam mengarahkan lanjutan MCU yang terus berkembang sekaligus menambah kisah pribadi Peter Parker.

kostum Stealth mode Spider-Man berwarna hitam
via Sony Pictures

Meskipun begitu, Watts sepertinya tidak terlalu memikirkan bagaimana Far from Home melanjutkan semesta Marvel setelah Endgame; tanpa tekanan dan masih memberikan narasi yang diinginkan oleh penggemar Manusia Laba-Laba. Watts setidaknya menunjukan bahwa tanpa adanya Iron Man, Thor, atau Captain Marvel, masih ada Friendly Neighborhood Spider-Man menyelamatkan dunia.

Tapi salah satu kejutan terbaik yang terlihat pada Far from Home adalah kembalinya cameo dari karakter yang pernah hadir pada beberapa film Spider-Man sebelumnya. Tidak hanya sekilas, namun karakter tersebut bisa menjadi penghubung iterasi Spider-Man-nya Tom Holland dengan film sebelumnya. Siapakah karakter tersebut?

Ekspektasi meningkat setelah Avengers: Endgame

Kelebihan dan kekurangan film Spider-Man: Far from Home terletak pada posisinya tepat setelah Avengers: Endgame sebagai penutup Fase Ketiga MCU. Kelebihannya, seperti yang disebutkan di atas, adalah kekuatan Peter dan teman-teman menghasilkan narasi yang ringan namun tetap sejalan dengan dunia superhero dalam semesta Marvel.

review film spider-man far from home
via Sony Pictures

Namun kelemahannya adalah ekspektasi penonton yang semakin besar masih belum bisa dipenuhi dengan cerita yang kurang mendalam dari film ini. Sekilas, Far from Home masih kesulitan memberikan adegan aksi yang seru dan menggelegar layaknya Endgame. Walaupun tak menjadi soal. Pasalnya, Feige menjelaskan bahwa film ini adalah bagian dari ‘penyegaran’ terhadap penonton setelah dilanda emosi hebat paska Endgame.

Tapi Far from Home juga mendapatkan tekanan yang berat dari sesama film Manusia Laba-Laba lainnya, Spider-Man: Into the Spider Verse yang menyabet Oscar awal tahun lalu. Cerita baru dengan unsur komedi yang pas dengan pertentangan Miles Morales mengemban “great power” bisa dibilang sebagai adaptasi Spider-Man terbaik saat ini. Dan sayangnya, Far from Home tak sekuat Into the Spider Verse dalam menarasikan perkembangan sisi manusia Spider-Man di semesta sinematis Marvel.

Tom Holland tidak mendapatkan kesempatan untuk menampilkan kedalaman karakter yang pernah kita lihat sebelumnya, terutama setelah kepergian sang mentor Tony Stark yang memilukan di Endgame. Tapi paling tidak, Tom benar-benar memesona dalam memperlihatkan antusiasme remaja dibandingkan dua Spider-Man sebelumnya, (Tobey dan Andrew).

via Sony Pictures

Secara keseluruhan, Spider-Man: Far from Home memberikan cerita yang menarik dengan perkembangan yang cukup signifikan bagi karakter Peter Parker. Meskipun begitu, formula yang sama dengan rangkaian film Marvel lainnya menjadikan film ini mudah ditebak. Peter Parker membutuhkan tantangan yang lebih berat.

Dan dengan dimulainya Fase Keempat MCU tahun depan, patut dilihat kemana Marvel membawa superhero mereka ke arah yang melampaui ekspektasi penggemarnya. Atau semesta Marvel hanya akan menurun setelah perperangan hebat Infinity War dan Endgame selesai?

Rating: 4/5

Genre: Superhero, Action, Comedy

Sutradara: Jon Watts

Penulis: Chris McKenna, Erik Sommers

Bintang: Tom HollandSamuel L. JacksonJake Gyllenhaal, Zendaya

Review
  • Review Film
4

Summary

Spider-Man: Far from Home memberikan cerita yang menarik dengan perkembangan yang cukup signifikan bagi karakter Peter Parker. Meskipun begitu, formula yang sama menjadikan film ini mudah ditebak. Meskipun dengan berbagai twist serta ‘spoiler‘ yang berkembang. Peter Parker membutuhkan tantangan yang lebih berat. Dan dengan Fase Keempat MCU, patut dilihat kemana Marvel membawa superhero mereka ke arah yang melampaui ekspektasi penggemarnya.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.