Review Film Goosebumps 2: Haunted Halloween (2018) – Nostalgia yang Kehilangan Arah

poster Goosebumps 2

Kesulitan dari mengadaptasi sebuah buku menjadi film adalah ekspektasi yang dimiliki oleh pembaca setianya. Terlebih untuk buku seperti Goosebumps yang memilki nostalgia tersendiri. Adaptasi Goosebumps yang pertama memang berhasil memberikan nostalgia tersebut dengan menampilkan berbagai monster dan hantu yang pernah menjadi antagonis (atau protagonis) dalam buku karya R.L. Stine tersebut. Namun bagi film Goosebumps 2: Haunted Halloween, tidak ada sensasi tersebut.

Sama seperti yang terjadi pada Venom, Goosebumps merupakan salah satu film yang mendapatkan ekspektasi lebih besar karena diangkat dari sebuah buku terkenal yang dibaca di seluruh dunia. Sedangkan Venom dikritik karena tidak menampilkan Venom yang sesungguhnya, Goosebumps 2: Haunted Halloween tidak memiliki faktor X dibandingan instalansi pertamanya.

Pada cerita kedua yang masih bertempat di Wardenclyffe, New York, dua orang anak yang membuka usaha pembersihan sampah menemukan sebuah buku karya R.L. Stine yang masih belum selesai. Sama seperti pada film pertama dimana semua buku karangan penulis cerita horor tersebut bisa menjadi kenyataan, mereka juga membuka kunci buku tersebut dan merapalkan mantra yang membuat boneka ventriloquist bernama Slappy menjadi hidup.

Yap, the Puppetmaster kembali menjadi villain yang akan memberikan mimpi buruk bagi penonton dengan membuat Halloween menjadi hidup. Namun sayangnya, kurangnya kekuatan dari film ini membuat menonton film Goosebumps 2: Haunted Halloween sama seperti film-film ‘bioskop Tran*TV’ di malam hari.

slappy di Goosebumps 2: Haunted HalloweenVia Colombia Pictures

Tak seperti film pertamanya, Ari Sandel seperti kehilangan arah dalam membawa film kedua ini. Plot terlihat datar tanpa ada kejutan, yang tentu saja mungkin berterima untuk sebuah film yang menyasar penonton muda. Tapi yang lebih penting, meskipun dipenuhi karakter baru, Haunted Halloween hanya mengandalkan alur cerita standar untuk sebuah film horor anak-anak.

Memang, film ini dikhususkan untuk anak-anak berusia 13 tahun keatas. Dan tak seburuk kelihatannya, film ini masih memberikan nostalgia serta tergolong seram untuk anak-anak. Tetapi bagi pembaca setia yang mungkin sudah beranjak dewasa, film ini kehilangan kekuatannya.

Tapi tak sepenuhnya buruk. Haunted Halloween cukup memberikan hiburan yang ringan dan pesan moral tentang mengalahkan rasa takut, walaupun masih belum kuat. Namun saat menghabiskan waktu dan uang untuk menonton film ini, it’s not worth it.

review Goosebumps 2: Haunted Halloween

Via Colombia Pictures

Penonton, khususnya pembaca setia novel Goosebumps, pastinya mengharapkan suguhan yang menghibur dan memuaskan ketika mengeluarkan uang (minimal Rp 25 ribu) untuk ke bioskop. Jika kalian memiliki uang berlebih untuk menonton film ini dan sedikit bernostalgia dan membawa anak-anak sekedar berjalan-jalan dan menghabiskan waktu luang, mungkin film ini bisa menjadi pilihan. Jika tidak, tunggu saja tayangannya di stasiun TV swasta atau saat film ini sudah tersedia di layanan streaming.

Rating: 2.2/5


Genre: Horror, Adventure, Comedy, Family

Sutradara: Ari Sandel

Penulis:  Rob Lieber (screenplay)

Bintang:  Wendi McLendon-CoveyMadison IsemanJeremy Ray Taylor

Review Overview
  • Rating Film
2.2

Kesimpulan

Tak seperti film pertama yang menampilkan berbagai monster karya R.L. Stine, film kedua dibuat tanpa gairah dan cerita yang berkesan. Kurangnya kekuatan dari film ini membuat menonton Goosebumps 2: Haunted Halloween sama seperti film-film ‘bioskop Tran*TV’ di malam hari.

Sending
User Review
( votes)
Share

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.