Review Film Gemini Man (2019): Pengalaman Visual tak Seindah Plotnya

Visual dan CGI bagus tak selalu diiringi cerita yang memuaskan!

cover film Gemini Man

Tak mau lekang dimakan usia, Will Smith kembali dalam film aksi terbarunya. Yang membuat film Gemini Man patut ditonton adalah kualitas gambar dan editing mutakhir milik Hollywood. Adegan aksinya pun menyenangkan untuk diikuti. Walaupun narasi dan detail masih menjadi masalah utama Ang Lee sebagai sutradara.

Sebagaimana dijelaskan di trailer-nya, Gemini Man merupakan sebuah film revolusioner membawa Will Smith sebagai protagonis dan antagonis. Pemeran Genie dalam film Aladdin (2019) ini memerankan Henry Brogan, pensiunan pembunuh rahasia berusia 51 tahun dan versi kloning dirinya, Junior yang berusia 23 tahun.

Will Smith tua dalam film Gemini Man (review)
via Paramount Pictures

Karena dianggap membelot, maka dia dan Danny, agen mata-mata DIA (Defense Intelligence Agency) yang bertugas memata-matainya harus mengelak dari Junior, prajurit proyek rahasia Gemini yang memburu mereka berdua. Kejar-kejaran menyusuri Savannah, Budapest, hingga Cartagena di Kolombia menyuguhkan pemandangan menarik dengan detail frame yang mengagumkan.

Ang Lee dan CGI 120 fps

Ketika mencoba menonton film dengan teknologi 3D+, penonton langsung menikmati gambar yang jernih dan layaknya berada di dalam film. Hal ini dikarenakan Gemini Man berteknologi 120 frame per detik (tapi disunat oleh kemampuan bioskop Indonesia menjadi 60 fps saja).

Will Smith sebagai Junior
via Paramount Pictures

Satu poin penting Gemini Man ada di pertengahan film dimana Junior pertama kali bertemu Henry. Adegan yang dibagikan pada akun YouTube Paramount Pictures ini menampilkan aksi kejar-kejaran sepeda motor di jalan-jalan penuh warna Cartagena, Kolombia. Adegan mulus dari grafis menawan kamera 120 fps.

Indahnya rekayasa CGI sebagian besar terlihat ketika Will Smith muda muncul di layar. Saat bertemu, memandang Junior tak ubahnya melihat Agent J di Man in Black (1997). Tapi, tak semuanya sempurna. Ada beberapa saat dimana CGI terputus-putus, menegaskan CGI masih belum bisa menggantikan manusia.

Selain CGI, beberapa bidikan artistik khas Ang Lee bisa dirasakan. Setelah Life of Pi (2012), kepiawaian Lee menggabungkan efek visual dan visi artistik tak perlu diragukan lagi. Namun ketika dibawa ke adegan aksi, sudut pandang romantis layaknya dongeng khas Lee pun menghilang. Meskipun masih membawa warna-warna indah dari kota-kota eksotis di sepanjang film.

Will Smith da Mary Elizabeth
via Paramount Pictures

Lee mungkin ingin memberikan kesan realistis dalam pewarnaan serta nuansa yang diberikan. Tapi gambar yang super realistis bisa menjadi bumerang. Sebagian mungkin akan merasakan adegan terlihat terlalu nyata dan beberapa mungkin merasa aneh ketika pertama kali memandang gambar yang berbeda dari film kebanyakan.

Era baru manusia vs teknologi

Hasil karya revolusioner Ang Lee serta bantuan dari teknologi digital yang ditunggu selama 22 tahun ini (cerita ini dikembangkan sejak 1997) mampu menghadirkan pengalaman visual baru: menghadirkan versi muda dari aktor gaek. Ironisnya, film Gemini Man pun berkaitan dengan teknologi yang dipersiapkan untuk menggantikan manusia.

Melalui film ini, Lee serta Darren Lemke dan David Benioff sebagai penulis seperti ingin menunjukkan bagaimana teknologi digunakan untuk mengatasi kekurangan manusia: melenyapkan kelemahan untuk menjadikan manusia sempurna. Henry sudah menua dan tak lagi dalam usia primanya. Sudah saatnya digantikan oleh prajurit lain yang lebih sempurna: versi kloningnya.

CGI Will Smith melawan Will Smith
via Paramount Pictures

Kloningan atau sang pengganti bisa saja sebuah makhluk ciptaan yang lebih sempurna. Tapi apa yang membuat manusia lebih berharga? Film ini akan memberikan jawaban yang klise dan sering ditemukan dalam film manusia vs teknologi lainnya.

Mungkin inilah yang ingin disampaikan dalam 117 menit tayangan film. Naas, banyak kejanggalan yang terasa. Mulai dari proyek Gemini Man yang hanya dibahas dari sisi luarnya, serta kurangnya build up yang membawa penonton sulit mendapatkan ketertarikan emosional dengan Junior.

Tak didukung cerita yang menarik

Premis yang disuguhkan cukup menarik. Bagaimana seorang pembunuh terbaik bertarung dengan versi muda dirinya sendiri. Pembuatan film pun tertunda seiring belum lengkapnya teknologi ketika pertama kali dibawa tahun 1997. Ternyata, masalah terbesar film ini bukan pada teknologinya, tetapi naskah yang dibawakan.

protagonis Will Smith, Mary Elizabeth dan Bennedict Wong
via Paramount Pictures

Gemini Man masih menggunakan pola dan narasi yang usang tapi tanpa pengembangan baru. Looper (2012) menghadirkan drama dan thriller yang lebih menegangkan dari pertempuran Joe muda (Joseph Gordon Levitt) dengan Joe tua (Bruce Willis). Ada pula The Man who Haunted Himself (1970) dan yang terbaru Living with Yourself (2019).

Selain Smith, Benedict Wong bersinar sebagai Baron, seorang pilot dan sahabat Henry. Pun begitu dengan Mary Elizabeth dan Clive Owen. Sayang karakter Owen tak mendapatkan cukup waktu untuk menegaskan motifnya. Banyak pertanyaan yang masih menggantung di akhir cerita, menandakan kurang detailnya cerita yang diberikan.

Teknologi membuka berbagai kemungkinan untuk memaksimalkan peran aktor dalam sebuah cerita. Dan memang benar, film Gemini Man menonjolkan gaya baru pembuatan sebuah film. Sayangnya, bisa dibilang teknologi de-ageing adalah bintang utamanya sedangkan Smith hadir sebagai pemeran pembantu.

penjahat utama dlam film Gemini Man
via Paramount Pictures

Dari awal, jelas terlihat fokus Lee untuk menampilkan kesan visual. Tapi banyaknya detail yang diberikan – pori-pori wajah Smith, bintik api menari-nari, atau pergerakan lalat sebelum ditampar – membuatnya sulit menemukan fokus pada emosi yang lebih manusiawi.

Mengubah Will Smith menjadi salinan CGI yang lebih muda bukanlah hal yang mudah. Sutradara Ang Lee dan tim efek berhasil menampilkan adegan yang mengesankan bersama efek khusus menggunakan jajaran kamera super canggih. Cuma setelah menunggu bertahun-tahun, plot terkesan jauh dari ekspektasi untuk film yang memakai teknologi revolusioner serta punya nama besar seperti Will Smith dan Ang Lee.

Rating: 6/10

Genre: Drama, Aksi

Sutradara: Ang Lee

Penulis: David Benioff, Darren Lemke

Pemeran: Will SmithMary Elizabeth WinsteadClive Owen

Review Overview
  • 6/10
    Film Oke - 6/10
6/10

Summary

Mengubah Will Smith menjadi salinan CGI yang lebih muda bukanlah hal yang mudah. Sutradara Ang Lee dan tim efek berhasil menampilkan adegan yang mengesankan bersama efek khusus menggunakan jajaran kamera super canggih. Cuma setelah menunggu bertahun-tahun, plot terkesan jauh dari ekspektasi teknologi revolusioner serta nama besar Will Smith dan Ang Lee.

Sending
User Review
0/10 ( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.