Kontroversi Aladdin: Kesalahan Asal Cerita dan Stereotip Orientalisme

cover film Aladdin 2019

Banyak yang mengenal Aladdin melalui animasi yang dikeluarkan 1992 lalu. Tetapi kontroversi Aladdin dimulai jauh sebelum itu. Produksi live action Aladdin yang dibintangi oleh Will Smith, Naomi Scott, dan Mena Massoud memiliki banyak beban budaya untuk diatasi. Dan skeptisisme atas premis dan eksekusi film yang mengangkat budaya Arab tersebut bahkan muncul sebelum syuting dimulai.

Masalah sepenuhnya bukan berasal dari film 2019. Dilansir dari Vox, masalah kebudayaan dan stereotip terhadap kebudayaan Arab bukan hanya ada di Aladdin, tapi juga dalam film Indiana Jones dan video klip Coldplay dan Rihanna “Princess of China.”

stereotip dalam film Indiana Jones
Penggambaran negara Asia dan Afrika yang barbar di film Indiana Jones via Paramount Pictures

Kebanyakan orang berpikir bahwa kisah Aladdin berasal dari 1001 Night yang asli: sebuah kumpulan cerita rakyat tradisional Timur Tengah dan Asia. Namun pada kenyataannya, Aladdin bukanlah cerita rakyat tradisional. Ia memiliki sejarah yang berbeda dan hal itulah yang masih menyebabkan kontroversi hingga saat ini.

Tidak ada yang mengenal siapa pencipta Aladdin sebelum penulis Perancis Antoine Galland memasukkannya ke dalam terjemahan 1001 Nights pada tahun 1712. Galland mengaku mendengar cerita tersebut langsung dari pendongeng Suriah, tetapi mengklaim bahwa cerita ini berasal dari sumber yang jauh lebih eksotis. Dengan kata lain, seorang pria Perancis dengan pandangan kolonial Eropa-lah yang menjadikan Aladdin bagian dari 1001 Nights.

Pengaruh orientalisme dalam kontroversi Aladdin

Pandangan bangsa Barat yang membayangkan semua bagian Asia (dan sebagian Eropa) sebagai daerah penuh misteri dikenal dengan konsep Orientailsme. Konsep yang dipopulerkan oleh Edward Said dalam bukunya “Orientalism” tahun 1978 ini menguraikan sastra dan narasi yang digunakan penulis Eropa dan Amerika dalam menggambarkan Asia dan Timur Tengah sebagai aneh, regresif, misterius dan mistis, dibingkai melalui perspektif kolonial.

Dilansir dari National Geographic, Aladdin awalnya disebut sebagai “Aladdin and the Magical Lamp”. Dalam teks Galland dan terjemahan Richard Burton yang terkenal, Aladdin tinggal di “sebuah kota di Cina.” Ilustrasi dari era Victoria menggambarkan ia sebagai orang Cina. Latar dan etnisitas karakter Aladdin berganti sejak diadaptasi ke layar lebar pada abad ke-20.

seri pantomime dalam kontroversi Aladdin
via Hulton Archive/Getty Images

Sebelumnya, Aladdin digambarkan sebagai pemuda yatim piatu di sebuah kerajaan fiksi Agrabah. Tetapi dalam cerita aslinya, dia tinggal bersama ibunya. Penggambaran Aladdin dalam budaya Cina masih bisa disaksikan hingga abad ke-20. Terlihat dalam seri produksi pantomime Inggris tahun 1935.

Berbanding lurus dengan penggambaran cerita yang secara bebas menggabungkan unsur-unsur Asia dengan kebudayaan Eropa. Dalam versi komedi musikal Aladdin tahun 1880, pemeran utama tampaknya dimainkan oleh seorang aktor berwajah kuning (Asia/Cina) dengan pengaturan kontemporer bergaya Eropa. Penggambaran dan cerita asli Aladdin pernah dibuat dalam kisah mini seri Arabian Nights (2000) dimana Aladdin diperankan oleh Jason Scott Lee.

Kecenderungan untuk memodernisasi Aladdin berlanjut hingga abad ke-20 dimana cerita seringkali dicampurkan antara budaya Timur yang (katanya) eksotik dengan gaya dan mode bahasa Inggris modern. Aladdin pada awalnya memiliki karakter pemalas, licik, serakah, dan mudah terpengaruh oleh kekayaan. Namun untuk romansa film, ia diubah sehingga bersifat pintar, banyak akal, dan setia.

versi animasi Aladdin
via Disney

Dalam versi aslinya, Aladdin tinggal bersama ibunya. Ibunya adalah orang yang menggosok lampu dan mengeluarkan jin di dalam lampu. Namun setelah munculnya Hollywood, pencerita Amerika dan Eropa secara bertahap mulai mengubah Aladdin hidup sendiri untuk menguatkan sifat kemandiriannya. Ia akhirnya disebut hidup di Timur Tengah, lengkap dengan latar eksotis dan semua stereotip budaya.

Versi animasi Aladdin yang penuh dengan stereotip

Versi Aladdin tahun 1992 jelas menjadi tonggak baru yang mengantarkan pemikiran sebagian besar penonton dan masyarakat tentang cerita Aladdin dan penggambaran Timur Tengah.

Sebagai tanggapan atas dugaan cerita asli di Cina, film animasi menggunakan kota fiksi Agrabah berada di sepanjang sungai Jordan yang bermuara di pantai Cina. Namun, versi animasi menggabungkannya dengan pengembangan budaya dan arsitektur dari Arab, seperti Istana Sultan yang mengambil inspirasi dari Taj Mahal.

kota Agrabah dalam stereotip dan kontroversi Aladdin
via Disney

Filmnya juga menggambarkan banyak stereoptip. Dengan kota Agrabah sebagai “kota misteri”, Jasmine adalah seorang putri yang ingin lari dari budaya yang menindas dan merendahkan perempuan, dan warga Agrabah digambarkan sebagai pemegang pedang yang bengis sedangkan wanitanya adalah penari perut yang seksi.

Lebih buruk lagi, ada lirik dalam lagu pembuka Arabian Nights berisi stereotip yang menyudutkan. “Mereka memotong telingamu jika mereka tidak menyukai wajahmu / itu biadab, tapi hei, itu rumah.”

Bayangkan jika generasi sekarang mendengar dan memahami lirik ini dan mengaitkannya dengan konteks terorisme yang pernah hadir di Amerika beberapa waktu lalu.

penduduk Agrabah
via Disney

Namun yang paling penting adalah film ini menjadikan pahlawannya, Aladdin dan Genie seperti orang Amerika secara budaya. Cerdas, romantis, lincah, serta memiliki visi yang berbeda dari masyarakat lain membedakan mereka dari penduduk Agrabah yang digambarkan kolot dan tanpa ampun.

Genie versi Robin Williams juga memperkenalkan improvisasi dari lelucon budaya pop Amerika kontemporer. Intinya, tak sulit untuk membaca Aladdin (dan Genie) sebagai representasi orang Amerika yang berada di negara Timur Tengah yang eksotis.

Kontroversi live action Aladdin

Versi baru Aladdin pada tahun 2019 masih bergulat dengan semua stereotip yang diwarisi film animasinya. Guy Ritchie sebagai sutradara – hebat dalam aksi, namun kurang dalam penggambaran ras – menjadi sumbernya. Selain itu, kontroversi casting juga menimbulkan banyak perdebatan.

Laporan awal dimana Ritchie dan Disney kesulitan menemukan aktor Arab dan Asia yang bisa bernyanyi membuat marah penggemar. Kemudian produksi dikritik karena memilih Naomi Scott yang berdarah Inggris-India, bukan Timur Tengah atau Arab.

Aladdin dan Putri Jasmine
via Walt Disney Pictures

Terlebih lagi, masih ada rasa kurang percaya dari produk akhirnya. Dewan Hubungan Amerika-Islam mencatat “tema rasis dari versi animasi asli tampaknya muncul kembali dalam remake live-action, meskipn ada upaya dari Disney untuk mengatasi masalah 25 tahun yang lalu itu.”

Mereka juga menyinggung pemerintahan Trump yang memperbesar garis antar ras di Amerika. Dalam Aladdin, mereka memperingatkan: film yang dikeluarkan selama era Trump dari animator anti-Muslin, anti-imigan dan rasis yang meningkat dengan cepat hanya berfungsi untuk menormalkan stereotip dan mengesampingkan komunitas minoritas.

Mulan dan stereotip Cina
via Disney

Dibalik semua kontroversinya, Disney adalah pusat kekuatan global yang film-filmnya dapat membentuk persepsi budaya selama beberapa generasi. Terlebih film tentang Disney Princess yang lebih banyak ditonton oleh anak-anak semisal Mulan hingga Pocahontas. Jadi, baik atau buruk, sinyal budaya Aladdin dan warisannya yang bermasalah mungkin akan selalu diingat untuk waktu yang lama di masa depan.

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.