Film Hasut mencoba mengambil jalan berbeda dengan menjadikan suara misterius sebagai sumber teror. Tanpa sosok hantu yang misterius, film ini menegaskan bahwa ketakutan manusia tidak hanya datang dari sesuatu yang tak terlihat, tapi juga informasi yang belum tentu benar.
Sinopsis film Hasut
Vira (Karina Salim) merupakan seorang healer yang mengajak adiknya, Rere (Rachel Amanda), bersama dua teman mereka, Dharma (Marthino Lio) dan Derry (Kevin Ardilova), pergi ke hutan untuk menjalani perjalanan penyembuhan. Keempatnya datang dengan persoalan mereka masing-masing.
Situasi mulai berubah ketika mereka mendengar suara misterius melalui handy talkie (HT). Suara tersebut perlahan memberikan informasi yang membuat mereka mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ketakutan semakin merebak karena mereka tidak mengetahui siapa dalang di balik suara tersebut. Perjalanan yang awalnya bertujuan untuk menyembuhkan akhirnya berubah menjadi situasi penuh paranoia. Hingga memaksa mereka untuk bertanya kembali tentang apa yang mereka percaya selama ini.
Horor psikologis yang bertumpu pada suara
Hasut memiliki premis simepl namun cukup menarik. Empat orang melakukan perjalanan ke dalam hutan. Awalnya yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah, mereka malah berhadapan dengan sosok misterius tak dikenal.
Sebagai debut penyutradaraan pertamanya, Ilya Sigma menggunakan suara misterius untuk membangun ketegangan. Penonton diajak mendengar sesuatu bersama karakter, tapi tidak mengetahui apakan informasi tersebut benar atau tidak. Ini tentu saja menambah rasa curiga yang menyebar ke seluruh bioskop.

Ilya mengubah ketakutan manusia menjadi dasar rasa curiga. Vira dan yang lainnya sadar bahwa ada kemungkinan bahwa satu dari mereka berempat tidak lagi bisa dipercaya. Ini membuat Hasut lebih dekat dengan psychological horror. Tak hanya berusaha membuat penonton takut, tetapi juga membuat mereka mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Pemilihan hutan sebagai lokasi juga memberikan nuansa menegangkan. Tidak perlu dibuat gelap dengan jumpscare bertaut-tautan, tapi pemandangan alam terbuka justru menjadi kontradiksi mengingat kondisi psikologis para karakter yang merasa semakin tertekan.
Ilya sepertinya ingin mempertahankan misteri sampai akhir dengan tidak menjelaskan semua cerita. Ada beberapa latar belakang karakter yang tertinggal dan ending yang terbuka. Bisa jadi pilihan sutradara, tapi membuat penonton mempertanyakan berbagai peristiwa tanpa mengetahui jawabannya.
Mengulas cara manusia mempercayai informasi
Ilya sebelumnya dikenal sebagai penulis skenario. Bermula di film Catatan Harian si Boy (2011), Hasut jadi debut penyutradaraan pertamanya. Ia juga berperan sebagai penulis, termasuk mengadopsi pengalaman pribadinya menjadi cerita.
Sama seperti Memburu Pemangsa (2026) karya Umay Shahab, Hasut menghadirkan gaya baru yang berbeda dari kebanyakan film horor Tanah Air lainnya. Jika Umay mengandalkan crime investigasi, Ilya menggunakan sisi psikologis untuk memaksimalkan rasa tegang dan ketakutan penonton.

Di balik horornya, Hasut sebenarnya lebih banyak berbicara mengenai manusia dan cara mereka menerima informasi. Film ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa dengan mudah dipengaruhi informasi tanpa lebih dulu memastikan kebenarannya.
Meski belum jelas siapa dan apa sebenarnya suara yang muncul dari HT, keempat karakter sudah lebih dulu terancam dan akhirnya tidak percaya satu dengan yang lainnya. Ketakutan tidak harus menyerang fisik, tapi bisa menjangkau psikologis demi menimbulkan konflik antar karakter.
Jelas terlihat bagaimana kekuatan film ini terletak pada sound design-nya. Suara-suara yang bersahut-sahutan, baik dari karakter maupun yang ada di HT tidak hanya sebagai pelengkap, tapi menjadi bagian dari keberlangsungan plotnya.

Menariknya, Ilya menyebutkan bahwa film ini dibuat menggunakan frekuensi audio yang hanya bisa didengarkan di bioskop. Sehingga bisa dibilang hanya penonton bioskop yang bisa menikmati sepenuhnya perasaan-perasaan aneh yang ditawarkan oleh Ilya dan tim produksi.
Hasut bisa jadi tontonan menarik buat kamu yang sudah bosan dengan genre horor di Indonesia. Dalam film yang lebih mengandalkan paranoia ketimbang jumpscare menakutkan, ceritanya terbilang kompleks dan dipenuhi dengan beberapa misteri yang belum terpecahkan.


